Kamis, 06 Desember 2012


MENCEGAH DAN MENANGGULANGI KEBAKARAN
(Oleh: Djoko Kustono)

          Kebakaran selalu menelan banyak kerugian baik moril, materiil bahkan sering kali juga keselamatan manusia. Bila kebakaran tersebut menimpa fasilitas publik misalnya Pasar Besar di kota Malang, Pasar Tanah Abang di Jakarta, Gedung BI di Jakarta dan lain sebagainya maka yang menderita kerugian tentu masyarakat banyak. Di lihat dari segi rehabilitasi fasilitas maka kecelakaan akibat kebakaran memerlukan waktu yang relatif lama belum lagi kerugian yang mustahil direcoveri seperti arsip, barang antic, sertifikat dan lain sebagainya. Oleh karena itu mencegah terjadinya kebakaran merupakan pilihan utama dalam teknologi penanggulangan kebakaran. Dari sisi legal formal disebutkan dalam UU No. 1 Tahun 1970 “Dengan perundangan ditetapkan persyaratan keselamatan kerja untuk mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran”. Kemudian diikuti dengan peraturan lain misalnya: Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.186/MEN/1999 Tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja dan lain sebabagainya menyebutkan dalam Pasal ayat 1 “Pengurus atau Perusahaan wajib mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, menyelenggarakan latihan penganggulangan kebakaran di tempat kerja”
Bahaya kebakaran adalah bahaya yang ditimbulkan oleh adanya nyala api yang tidak terkendali. Sedangkan Penanggulangan kebakaran ialah segala upaya untuk mencegah timbulnya kebakaran dengan berbagai upaya pengendalian setiap perwujudan energi, pengadaan sarana proteksi kebakaran dan sarana penyelamatan serta pembentukan organisasi tanggap darurat untuk memberantas kebakaran.
Pencegahan kebakaran adalah segala usaha yang dilakukan agar tidak terjadi penyalaan api yang tidak terkendali. Pencegahan kebakaran mengandung dua pengertian yaitu (1) penyalaan api belum ada dan usaha pencegahan ditujukan agar tidak terjadi penyalaan api. Contoh dari tindakan ini adalah dengan memisahkan bahan mudah terbakar pada ruang khusus, membuat aturan pencegahan kebakaran, memasang rambu dilarang merokok dan seterusnya. (2) Penyalaan api sudah ada dan usaha pencegahan ditujukan agar api tetap terkendali. Contoh dari tindakan ini adalah mengatur nyala api di dalam ruang tempa, ketel uap, dapur pemanas dan lain sebagainya.
Pencegahan kebakaran menurut Kepmen No. 186/Men/1999 adalah mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja yang meliputi: (1) pengendalian setiap bentuk energi; (2) penyediaan sarana deteksi, alarm, memadamkan kebakaran dan sarana evakuasi; (3) pengendalian penyebaran asap, panas dan gas; (4) pembentukan unit penanggulanan kebakaran di tempat kerja, (5) penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara berkala dan (6) memilki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi tempat kerja yang mempekerjakan lebih dari 50 (lima puluh) orang tenaga kerja dan atau tempat yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan berat.
Dari segi strategi pemadaman ada dua cara penting yang perlu diperhatikan yaitu (1) teknik dan (2) taktik pemadaman kebakaran. Teknik pemadaman kebakaran  yaitu kemampuan mempergunakan alat dan perlengkapan pemadaman kebakaran dengan sebaik-baiknya. Agar menguasai teknik pemadaman kebakaran maka seseorang harus mempunyai pengetahuan tentang penanggulangan kebakaran, bersikap positif terhadap penanggulangan kebakaran, terlatih dan terampil mempergunakan berbagai alat serta perlengkapan kebakaran.
Taktik pemadaman kebakaran adalah kemampuan menganalisis situasi sehingga dapat melakukan tindakan dengan cepat dan tepat tanpa menimbulkan kerugian yang lebih besar. Taktik ini terkait dengan analisis terhadap unsur-unsur pengaruh angin, warna asap kebakaran, material utama yang terbakar, lokasi dan lain sebagainya.

3.2. Penyebab Kebakaran
          Berbagai sebab kebakaran dapat diklasifikasikan sebagai (1) kelalaian, (2) kurang pengetahuan, (3) peristiwa alam, (4) penyalaan sendiri, dan (5) kesengajaan.
1. Kelalaian
          Kelalaian merupakan penyebab terbanyak peristiwa kebakaran. Contoh dari kelalaian ini misalnya: lupa mematikan kompor, merokok di tempat yang tidak semestinya, menempatkan bahan bakar tidak pada tempatnya, mengganti alat pengaman dengan spesifikasi yang tidak tepat dan lain sebagainya.
2. Kurang pengetahuan
          Kurang pengetahuan tentang pencegahan kebakaran merupakan salah satu penyebab kebakaran yang tidak boleh diabaikan. Contoh dari kekurang pengetahuan ini misalnya tidak mengerti akan jenis bahan bakar yang mudah menyala, tidak mengerti tanda-tanda bahaya kebakaran, tidak mengerti proses terjadinya api dan lain sebagainya.
3. Peristriwa alam
          Peristiwa alam dapat menjadi penyebab kebakaran. Contoh: gunung meletus, gempa bumi, petir, panas matahari dan lain sebagainya.
4. Penyalaan sendiri.
          Api bisa terbentuk bila tiga unsur api yaitu bahan bakar, oksigen (biasanya dari udara) dan panas bertemu dan menyebabkan reaksi rantai pembakaran. Contoh: kebakaran di hutan yang disebabkan oleh panas matahari yang menimpa bahan bakar kering di hutan.
5. Kesengajaan
          Kebakaran bisa juga disebabkan oleh kesengajaan misalnya karena unsur sabotase, penghilangan jejak, mengharap pengganti dari asuransi dan lain sebagainya.

3.3. Segitiga Api
          Api terjadi dari tiga unsur yaitu (1) bahan bakar, (2) Oksigen dan (3) panas. Bahan bakar yang mudah terbakar tersebut misalnya: kayu, kertas, karet, plastik dan lain sebagainya. Oksigen biasanya didapat dari udara. Udara mengandung 21 % oksigen suatu tempat dikatakan masih memiliki keaktifan pembakaran bila kadar oksigennya lebih dari 15 %. Sedang bila kurang dari 12 % tidak akan terjadi pembakaran.
Nyala api terjadi Karena adanya unsur bahan bakar, panas dan oksigen yang berjalan dengan cepat dan seimbang. Ke tiga unsur api tersebut seringkali digambarkan sebagai segi tiga api. (Gambar 3.1. a). Beberapa referensi menambahkan reaksi rantai sebagai unsur yang harus ada sehingga menjadi Tetrahedron Api (Gambar 3.1b).
Dasar dari system pemadaman api adalah merusak keseimbangan reaksi api.  Hal ini dapat dilakukan dengan empat cara yaitu (1) memisahkan panas atau mendinginkan, Gambar 3.1.b, (2) mengisolasi yaitu memisahkan oksigen (udara), Gambar 3.1.c; (3) menguraikan yaitu memisahkan bahan bakar (Gambar 3.1.d) dan (4) merusak reaksi rantai api.




Gambar 3.1. Segitiga Api, dan Tetrahedron Api


Gambar 3.2. Pendinginan, Isolasi dan Penguraian


3.3. Klasifikasi Kebakaran
          Dengan semakin meningkatnya teknologi maka diversifikasi bahan bakar juga semakin meluas. Berbagai jenis bahan bakar dan teknis pembakarannya mendorong para ilmuwan kebakaran untuk menggolongkan jenis kebakaran menurut bahan bakar yang terbakar karena cara ini dipandang paling efektif di dalam menentukan teknik dan taktis pemadaman kebakaran. Klasifikasi kebakaran dimaksudkan sebagai penggolongan atau pembagian jenis kebakaran berdasarkan jenis bahan bakar yang terbakar. Pembagian atau penggolongan ini bertujuan agar diperoleh kemudahan dalam menentukan cara pemadamannya. Namun demikian ternyata belum ada kesepakatan yang berlaku secara menyeluruh terhadap pengklasifikasian ini. Masing-masing negara atau asosiasi ahli memiliki klasifikasi sendiri-sendiri.
1. Klasifikasi di Indonesia
          Klasifikasi kebakaran di Indonesia mengacu kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Per. 04/Men/1980 tanggal 14 April 1980 Tentang syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Klasifikasi tersebut adalah sebagai berikut.
(1)  Klas A: Bahan bakar padat (bukan logam)
(2)  Klas B: Bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar
(3)  Klas C: Instalasi listrik bertegangan
(4)  Klas D: Kebakaran logam
2. Klasifikasi Eropa
          Klasifikasi di Eropa sesudah tahun 1970 mengacu kepada Comite European de Normalisation sebagai berikut.
(1)  Klas A: Bahan bakarnya bila terbakar meninggalkan abu
(2)  Klas B: Bahan bakar cair. Contoh: bensin, solar, spiritus dan lain sebagainya
(3)  Klas C: Bahan bakar gas. Contoh: LNG, LPG dan lain sebagainya
(4)  Klas D: Bahan bakar logam. Contoh: magnesium, potasium dan lain sebagainya.
3. Klasifikasi Amerika National Fire Protection Association (NFPA)
(1)  Klas A: Bahan bakarnya bila terbakar meninggalkan abu
(2)  Klas B: Bahan bakar cair atau yang sejenis
(3)  Klas C: Kebakaran karena listrik
(4)  Klas D: Kebakaran logam
Label menurut klasifikasi NFPA untuk fire extinguisher seperti gambar berikut:










A-1
B-1

C-1
d-1

Gambar 3.3 Label Jenis Kebakaran Menurut NFPA


4. Klasifikasi Amerika U.S. Coast Guard
(1)  Klas A: Bahan bakar padat
(2)  Klas B: Bahan bakar cair dengan titik nyala lebih kecil dari 170 derajat Fahrenheit dan tidak larut dalam air misalnya: bensin, benzena dan lain sebagainya
(3)  Klas C: Bahan bakar cair dengan titik nyala lebih kecil dari 170 derajat Fahrenheit dan larut dalam air misalnya: ethanol, aceton dan lain sebagainya
(4)  Klas D: Bahan bakar cair dengan titik nyala lebih besar atau sama dengan 170 derajat Fahrenheit dan tidak larut dalam air misalnya:minyak kelapa, minyak pendingin trafo dan lain sebagainya
(5)  Klas E: Bahan bakar cair dengan titik nyala sama dengan atau lebih tinggi dari 170 derajat Fahrenheit dan larut dalam air misalnya: gliserin, etilin dan lain sebagainya
(6)  Klas F: Bahan bakar logam misalnya: magnesium, titanium dan lain sebagainya
(7)  Klas G: Kebakaran listrik.




3.4. Media Pemadam Api
          Media pemadam api yang biasa digunakan adalah (1) air, (2) busa, (3) karbon dioksida, (4) gas halon serta pasca halon dan (5) serbuk kimia kering. Cara kerja dari ke lima media pemadam api tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Air.
          Air merupakan media pemadam api yang paling umum digunakan, karena air dipandang memiliki berbagai sifat yang baik untuk memadamkan api dan relatif mudah dan murah didapatkan dalam jumlah yang banyak. Pada kondisi normal air mempunyai panas laten penguapan 2250 kJ/kg. Dengan sifat ini maka air sangat mudah untuk mendinginkan api (memisahkan panas dari unsur api).
          Perbandingan volume air dengan uap hampir 1500 kali, artinya setiap meter kubik air akan menghasilkan sekitar 1500 kubik uap air pada kondisi atmosfer. Uap yang terbentuk ini akan menyelimuti api sehingga terjadi pemisahan (isolasi) dari oksigen di udara.
          Sifat sifat yang kurang menguntungkan air yang perlu dipertimbangkan sebagai media pemadam api antara lain adalah (1) air mudah membeku pada temperatur dingin, (2) bila viskositas naik maka air lebih sulit dipompa, (3) merupakan konduktor yang baik sehingga tidak cocok untuk api jenis C dan (4) density air relatif tinggi sehingga bila yang terbakar adalah minyak, oli dan lain sebagainya maka nyala api akan berada di atas air dan tidak padam.
2. Busa (foam)
          Busa atau foam terbentuk bila udara atau gas terjebak di dalam media cairan. Busa mempunyai efek menyelimuti dan mendinginkan api. Sebagai media pemadaman api busa dibuat dari campuran antara air, udara dan campuran busa.
          Proses pembuatan busa terdiri dari dua tahap yaitu (1) konsentrat busa dicampur dengan air bertekanan sehingga terbentuk larutan busa dan (2) larutan busa dicampur dengan udara sambil disemprotkan sehingga terbentuk busa siap memadamkan api. Gambar 3.2 menunjukkan proses ini.
Gambar 3.  Proses Pembuatan Busa


3. Karbon dioksida
          Karbon dioksida dipakai sebagai media memadamkan api karena sifatnya yang dapat mengganggu proses oksidasi pada bahan yang terbakar. Bila oksigen berkurang sampai kurang dari 15 % maka proses kebakaran akan berhenti. Karbon dioksida mempunyai sifat yang tidak konduktif maka bisa dipakai untuk kebakaran jenis C (listrik bertegangan), namun demikian tidak cocok untuk pemakaian kebakaran yang sudah meluas atau di tempat terbuka.

4. Gas halon
          Halon merupakan keluarga dari senyawa halogenated hydrocarbon yang semua atau sebagian atom hidrogennya diganti dengan fluorine, chlorine atau bromine. Senyaea hidrocarbon yang paling sering digunakan adalah metane atau ethane. Material ini memadamkan api dengan cara menekan terjadinya reaksi rantai kebakaran. Sayang bahwa halon merusak atmosfer sehingga tidak dipergunakan lagi sebagai media pemadam kebakaran. Sebagai penggantinya dipakai gas pasca halon.

5. Bubuk kimia kering (dry chemical powder)
          Bubuk kering dari zat kimia tertentu dapat memadamkan api. Zat kimia yang biasanya digunakan untuk ini adalah sodium, potasium atau urea bikarbonat. Namun dapat juga dipergunakan potassium chloride atau mono-ammonium phospat. Cara memadamkan api media ini adalah dengan isolasi, pendinginan, dan mengganggu proses reaksi rantai.
          Bubuk kimia kering dapat digunakan baik untuk kebakaran lokal (dalam ruang) maupun di tempat terbuka (api besar). Mempunyai sifat tidak beracun dan bukan konduktor sehingga bisa dipakai untuk kebakaran jenis C.

Efektifitas masing-masing media pemadam api disajikan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Efektifitas Media Pemadam Kebakaran

No
Jenis Bahan Yang Terbakar
Media pemadam Api Yang Dipergunakan
Api Kecil Memakai APAR
Api Besar
Tepung Kering
gas CO2
Busa
Air
1
Benda yang terbakar meninggalkan abu
●●
●●
Air bertekanan dgn menggunakan jet spray nozzle
2
Plastik, lilin, cat, lemak, oli, alkohol, ether dan bensin
●●
●●
●●

Busa atau air bertekanan dgn fog-nozzle
3
Gas methan, propan, butan, acetilene, dll
●●
●●


Dengan uap, gas CO2 , bertekanan
4
Listrik yang masih bermuatan
●●
●●


Tepung kimia atau gas CO2
5
Kendaraan bermotor
●●
●●



6
Logam (magnesium, titanium dll)
Bubuk kimia kering

Catatan:
●     : bisa dipergunakan
●●   : paling baik dipergunakan
APAR : Alat Pemadam Api Ringan (Fire Extinguishers)


3.4. Alat Pemadam Api
          Alat pemadam api telah berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara garis besar alat pemadam api ini dapat dibedakan menjadi (1) alat pemadam api gerak yaitu alat pemadam api yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain dengan mudah misalnya: alat pemadam api ringan (APAR), mobil pemadam api dan lain sebagainya. (2) pemadam api instalasi tetap misalnya springkle, hydrant dan lain sebagainya.

3.4.1. Alat pemadam api ringan (APAR)
          Alat pemadam api ringan (APAR) atau fire extinguisers adalah alat pemadam api yang mudah dipergunakan oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. APAR dapat berupa tabung jinjing, gendong maupun beroda. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa APAR berhasil menanggulangi sekitar 30 % kejadian kebakaran. Oleh karena sifatnya yang hanya dapat menanggulangi kebakaran awal dan mudah dipergunaka oleh satu orang maka APAR biasanya hanya mempunyai durasi semprot yang relatif singkat (dalam bilangan menit).


Dry chemical picture



          Berdasarkan konstruksinya APAR biasanya dibuat dalam dua kelompok yaitu (1) stored pressure type (SPT) dan (2) gas cartridge type (GCT). Stored pressure type (tersimpan bertekanan) adalah APAR yang memakai gas pendorong bertekanan tercampur bersama media pemadamnya. Gas pendorong yang dipakai adalah Nitrogen (N2). Ciri luar dari APAR ini biasanya ada penunjuk tekanan gas diluarnya. Sedangkan gas cartridge type adalah jika gas pendorong terletak pada cartridge tersendiri, terpisah dari media pemadamnya. Gas yang dipergunakan biasanya adalah gas CO2 (carbon dioksida atau gas asam arang. Dilihat dari media pemadamnya APAR yang sering dipakai adalah (1) jenis air, (2) busa (foam), (3) tepung kimia kering (dry chemical powder), (4) halon serta pasca halon dan (5) gas asam arang (CO2 ).
          Secara singkat cara mengoperasikan APAR adalah sebagai berikut.











T.A.Te.S
1. Tarik pin pengunci
2. Arahkan selang ke dasar api
3. Tekan Handle

4. Sapukan ke seluruh permukaan api

1. APAR Jenis Air
          Pada jenis ini media pemadamnya berupa air yang terletak pada tabung. Dibuat dalam dua konstruksi yaitu SPT dan GCT. Jarak jangkau pancaran sekitar 10 ft sampai 20 ft. Dan waktu pancaran sekitar satu menit untuk kapasitas 2,5 galon. Hanya direkomendasikan untuk kebakaran jenis A, dengan luas bidang jangkauan sekitar 2500 ft persegi, jarak penempatan setiap 50 ft.
2. APAR Jenis Busa
          Tabung utama berisi larutan sodium bikarbonat (ditambah dengan penstabil busa). Tabung sebelah dalam berisi larutan aluminium sulfat. Campuran dari kedua larutan tersebut akan menghasilkan busa dengan volume 10 kali lipat. Busa ini kemudian didorong oleh gas pendorong (biasanya CO2 ). Kapasitas yang ada di pasaran adalah 2,5, 10, 20 dan 30 galon. Jangkauan semprot sekitar 10 sampai 15 meter untuk yang 2,5 galon habis dalam satu menit. Sedang yang 30 galon biasanya tipe beroda dengan jangkauan sampai 20 meter dengan waktu sampai 4 menit.






Gambar 3.


          Pemadaman dengan busa diperuntukan cairan mudah terbakar (bensin, solar dan lain sebagainya). Busa akan menutup (menyelimuti) seluruh permukaan yang mudah terbakar sehingga mengisolasi oksigen. APAR jenis ini tidak direkomendasikan untuk kebakaran karena karbon disulfida, ether, tiner dan alkohol karena cairan ini bersifat merusak busa.
          APAR jenis busa harus digunakan sampai habis karena tidak bisa digunakan ulang. Untuk pemeliharaan check kondisi nosel setiap bulan dan lakukan uji hidrostatik setiap tahun.

3. APAR Jenis Karbon Dioksida
          APAR jenis ini memadamkan dengan cara isolasi (smothering) di mana oksigen diupayakan terpisah dari apinya. Di samping itu CO2 juga mempunyai peranan dalam pendinginan. Material yang diselimuti oleh CO2 akan cenderung lebih dingin.
          Konstruksi APAR ini terdiri dari tabung tahan tekanan tinggi yang berisi gas CO2 , pipa siphon, katup dan corong. Bila katup dibuka maka cairan gas akan mengalir dan berubah menjadi es dan gas. Bila tabung telah dipakai 10 % maka harus diisi kembali. APAR jenis ini dapat dipergunakan untuk cairan yang mudah terbakar dan peralatan listrik. Dapat juga untuk api kelas A tetapi tidak boleh dipakai untuk kelas D. Di pasaran tersedia baik untuk yang jenis portable maupun beroda. Dapat dipakai untuk berbagai cairan mudah terbakar yang merusak busa (dimana APAR busa tidak bisa digunakan).


Gambar 3.


          APAR jenis CO2 tidak korosif dan tidak meninggalkan bekas. Tidak menghantar listrik, namun kualitasnya akan menurun bila tidak digunakan dalam waktu yang lama. Bila bobot turun sampai 10 % maka perlu diisi ulang.

4. APAR Jenis Serbuk Kimia Kering (dry chemical powder)
          APAR jenis ini berisi tepung kering sodium bikarbonat dan tabung gas karbon dioksida atau gas nitrogen (di dalam cartridge) sebagai pendorongnya. Gas pendorong bisa ditempatkan dalam tabung atau di luar tabung. Tepung kimia kering bersifat cepat menutup material yang terbakar, dan mempunyai daya jangkau menutup permukaan yang cukup luas.
          Agar serbuk terdorong dan keluar bersama gas pendorong maka cara pengoperasian dari APAR ini adalah dengan membuka kunci penutup atau menekan handlenya agar pin terputus. Jarak jangkau semprotan dan lamanya waktu semprot tergantung dari ukuran APAR.
          APAR jenis ini terdapat di pasaran baik berupa jinjing, gendong, beroda maupun stationary. Untuk jenis stationary biasanya dipasang pada mobil pemadam kebakaran atau kendaraan emergency lain.
          Direkomendasikan untuk penanggulangan kebakaran cairan di tempat terbuka seperti tangki di luar ruang, ceceran minyak, kebakaran jenis listrik bertegangan, dan pabrik tekstil (cotton, wool atau rayon). Namun tidak direkomendasikan untuk klasifikasi kebakaran jenis A yang besar dan kebakaran karena logam (jenis D).
          Untuk tandon cairan mudah terbakar yang berada dalam ruangan maka APAR ini tidak direkomendasikan karena akan banyak terdapat asap yang menghalangi proses pemadaman. Pemasangan APAR ini sebaiknya dibantu dengan hidran lengkap dengan selangnya. Hal ini untuk memadamkan bara api yang terjadi.
         
5. APAR Jenis Gas Halon dan Pasca Halon.
            APAR jenis ini biasanya berisi gas halon yang terdiri dari unsur-unsur karbon, fluorine, bromide dan chlorine. Contoh: Halon 1211 berarti angka pertama 1 artinya jumlah atom karbon (C) adalah 1; Fluorine (F) 2 (angka ke dua); chlorine (Cl)1 (angka ke tiga) dan bromide (Br) 1 (angka ke empat). Namun sejak diketemukan lubang pada lapisan ozon yang diduga disebabkan oleh salah satu unsur gas halon maka menurut perjanjian Montreal gas halon tidak boleh dipergunakan lagi, dan mulai 1 Januari 1994 gas halon tidak boleh diproduksi. Sebagai pengganti halon dipergunakan gas pasca halon yang antara lain adalah HCFC 241 produksi Du Pont, HBFC 22B1 produksi Great Lake, dan lain sebagainya.

3.5. Pemercik Air Otomatis
3.5.1. Penggunaan Pemercik Otomatis
          Pemercik air otomatis (automatic sprinklers) merupakan sarana pemadam kebakaran instalasi tetap yang paling sering digunakan/dipasang pada gedung-gedung. Sistem ini harus dilengkapi dengan persediaan air yang cukup, jaringan pipa distribusi, pompa, katup, alarm dan sarana monitor lainnya.


         
Gambar 3.5. Tipikal Instalasi Pemercik Air Otomatis Pada Gedung/Bangunan
Gambar 3.6. Sistem suplai air


Sistem ini bekerja apabila gelas (quartzoid bulb) pada kepala sprinklers pecah karena panas. Dengan pecahnya  quartzoid bulb ini maka air bertekanan memercik ke seluruh tempat yang kebakaran dan memadamkan api.

Sistem pemercik otomatis terdiri dari:
(1)  Sistem deteksi kebakaran baik merupakan bagian dari sistem sprinklers ataupun bagian dari detektor lainnya
(2)  Unit pengontrol yang merespon deteksi dini ini
(3)  Suplai air yang cukup baik volume maupun tekanannya sesuai klasifikasi bangunan yang dilindungi
(4)  Sistem pipa distribusi
(5)  Sprinkler heads yang diletakkan sedemikian sehingga dapat memercikan air yang mengarah kepada letak kebakaran
(6)  Sistem penanda bahaya kebakaran otomatis yang biasanya berupa bunyi-bunyian dan hubungan ke unit pemadam kebakaran lainnya.

3.5.2. Jenis Sistem Pemercik Otomatis
Secara garis besar sistem pemercik otomatis dikategorikan menjadi (1) sistem pipa basah, (2) sistem pipa kering, (3) sistem deluge dan (4) pre action system.
1. Sistem pipa basah
          Pemercik otomatis disebut sebagai sistem pipa basah (wet pipe system) ialah apabila seluruh pipa distribusi sampai ke sprinkler terisi air bertekanan. Sistem ini memakai kepala sprinkler otomatis. Apabila gelas pada kepala sprinklers pecah karena panas maka air bertekanan segera memancar keluar memadamkan area yang terbakar. Air akan memancar hanya pada daerah yang sprinklernya pecah saja.

2. Sistem pipa kering
          Pada sistem pipa kering pipa distribusi tidak tersisi air. Sistem ini dipakai apabila tempat atau bangunan yang dilindungi mempunyai kemungkinan bertemperatur dingin sedemikian sehingga air di dalam pipa distribusi dan sprinklers membeku. Tempat seperti ini misalnya ruang refrigerator, bangunan di tempat dingin dan lain sebagainya.
          Di dalam pipa distribusi tidak berisi air melainkan gas nitrogen atau udara bertekanan. Apabila terjadi kebakaran maka sprinklers akan pecah, gas terdorong keluar sambil menghidupkan kontrol aliran air bertekanan yang kemudian memancarkan air untuk memadamkan kebakaran. Air hanya memancar pada daerah yang sprinklernya pecah saja.

3. Deluge system
          Deluge system atau system banjir atau sistem pancaran serentak biasanya dipasang pada tempat atau bangunan yang berisi material mudah terbakar secara keseluruhan misalnya gudang busa polyester, bagian pengeringan hardboard, polyurethane, hanggar pesawat terbang dan lain sebagainya. Pada sistem ini semua sprinkler dalam keadaan terbuka, kemudian apabila ada sinyal kebakaran dari sistem deteksi maka seluruh sprinkler akan memancarkan air. Jadi sistem pancaran serentak ini dihubungkan dengan pengontrol lain yang berfungsi untuk memberitahu adanya kebakaran pada tempat itu.

4. Pre-acthon system
          Sistem ini bertujuan untuk membantu mempercepat aliran air pada sistem kering. Pada dasarnya konstruksi terdiri dari gabungan standard sprinkler system dengan alat pengindera kebakaran (baik smoke ataupun heat detector). Pada saat awal pengindera mencium adanya bahaya kebakaran maka sistem langsung bekerja mengisi air pada pipa distribusi springkler, sehingga air sudah terisi sebelum sprinkler pecah karena panas. Jadi ketika sprinkler pipa sistem kering pecah maka di dalam pipa sudah berisi air yang langsung memancar pada tempat yang terbakar.

3.5.3. Kepala Pemercik Otomatis
          Kepala pemercik otomatis betugas untuk memancarkan air apabila telah mendapat sinyal deteksi kebakaran. Apabila Quartozoid bulb (Gambar a) pecah atau Pengunci (Gambar b) terlepas karena panas maka air langsung memancar mengenai deflektor dan akan dipancarkan menyebar ke seluruh daerah jangkauan pemercik otomatis.
                   (a)                                                        (b)

Gambar 3.7. Contoh Kepala Pemercik Otomatis


          Kepala pemercik otomatis akan aktif memancarkan air bila temperatur pada ruangan cukup untuk memecahkan quartozoid bulb (jenis a) atau memutus pengunci (jeins b). Temperatur ini disebut “temperature rating” dan biasanya besarnya sekitar 60 oC sampai 70 oC. Namun untuk beberapa tempat dengan pertimbangan tertentu di pasaran juga tersedia kepala pemercik dengan temperature rating yang lebih tinggi.

Tabel
Klas Bahaya Kebakaran
Temperatur Rating
Warna Kepala Pemercik
Derajat. F.
Derajat. C.
Ordinary (Biasa)
160
70
Bronze atau tak berwarna
Intermediate (Menengah)
220
100
Putih
High (Tinggi)
280
140
Biru
Extra High (Ekstra tinggi)
360
180
Merah

Catatan: Klas bahaya kebakaran ditentukan oleh ruang atau bangunan atau aset yang
             dilindungi.




3.6. Detektor Kebakaran
            Bahaya kebakaran akan semakin mudah dikendalikan apabila diketahui sesegera mungkin. Baik pengendalian yang bersifat keselamatan manusia dan aset maupun tatacara pemadamannya. Dalam situasi seperti ini maka peralatan deteksi dini kebakaran yang handal sangat menentukan kecepatan waktu penyebaran informasi. Tipikal instalasi sistem deteksi dini kebakaran adalah seperti Gambar 3.8.



Gambar


          Apabila detektor kebakaran mendeteksi adanya kebakaran maka informasi ini ditransfer melalui jaringan elektronik ke pusat pengendali. Pusat pengendali kemudian membunyikan alarm bahaya, mengaktifkan sistem pemadaman lokal misalnya sistem sprinklers dan pada kondisi tertentu langsung menginformasikan ke sistem pemadaman api di luar. (misalnya PMK kota atau kabupaten).
Sistem deteksi kebakaran bekerja berdasarkan perubahan kondisi lingkungan lokal karena kebakaran seperti adanya asap, peningkatan temperatur, adanya nyala, radiasi panas dan lain sebagainya. Berdasarkan perubahan lingkungan lokal ini maka detektor kebakaran akan bekerja untuk memberikan informasi kebakaran. Detektor kebakaran yang biasanya dipergunakan adalah (1) detektor asap, (2) detektor panas dan (3) detektor nyala. Namun demikian seiring dengan perkembangan teknologi maka telah berkembang berbagai detektor kebakaran yang semakin peka dan canggih.

1. Detektor Asap
          Detektor asap yang sering dipakai adalah (1) detektor asap ion dan detektor asap dengan. Detektor asap ion bekerja berdasarkan keseimbangan ion positif dan ion negatif. Sebuah sumber radioaktif menghasilkan ion positif dan ion negatif. Pada keadaan tidak ada asap maka ion positif dan ion negatif seimbang. Namun pada kondisi berasap maka keseimbangan ion positif-negatif terganggu. Gangguan ini memicu jaringan elektris untuk memberi tahukan ketidak normalan sistem ke pusat pengendali. Gambar 3.     
         



Gambar 3.  Detektor Asap Tipe Ion


Detektor asap optis (obscuration detector) seperti Gambar 3.   bekerja apabila ada gangguan sinar yang dipancarkan oleh sumber cahaya pada sensor photo elektris. Sebuah sumber cahaya memancarkan sinar dan mengenai sensor photo elektrik. Bila ada asap maka cahaya dari sumber cahaya akan terganggu sehingga memicu sensor untuk memberikan sinyal kepada pusat pengendali kebakaran yang kemudian meneruskan ke berbagai unit pencegahan.


Gambar 3.  Detektor Asap Tipe Optik


2. Detektor Panas
          Salah satu contoh detektor panas adalah seperti pada sprinklers yang sudah dibahas dalam Bab. 3.5.3 di atas. Dimana air akan memancar bila quartozoids bulb atau pengunci terkena panas. Contoh lain adalah detektor asap dengan menggunakan termistor sebagai sensornya.


heat detector
thermistor

Gambar 3. Detektor Asap Dengan Termistor

Termistor ini akan berkurang tahanannya bila terkena panas. Pengurangan tahanan pada termistor akan memicu sinyal ke pusat pengendali kebakaran dan mengaktifkan semua unit yang diperlukan untuk penanggulangan kebakaran.

3. Detektor Nyala.
          Detektor nyala akan diaktivasi apabila ada nyala api pada daerah jangkauannya. Salah satu contoh detektor nyala adalah detektor infrared dan ultraviolet. Nyala api pada dasarnya mengeluarkan tiga macam cahaya yaitu (1) cahaya yang terlihat mata (visible light), (2) radiasi infra-red dan (3) radiasi ultra-violet. Kombinasi dari infra-red dan ultra violet detector sangat peka dan cepat dalam mendeteksi terjadinya api, oleh karena itu cocok untuk bahaya ledakan yang menimbulkan kebakaran atau untuk bangunan yang luas dan mempunyai plafon tinggi.


flame detector

Gambar 3.  Detektor Nyala Radiasi Infra-Red

          Apabila terjadi nyala api yang tertangkap oleh detektor maka filter infra-red hanya akan meneruskan radiasi infra-red melalui lensa. Kemudian radiasi ini ditangkap oleh light sensing element yang meneruskannya ke time delay dan deskriminator frekuensi. Radiasi nyala infra-red mempunyai frekuensi yang unik yang membedakan dengan radiasi yang bukan dari nyala api, sehingga dapat menjamin kepastian bahwa yang tertangkap adalah radiasi karena nyala api. Keberadaan radiasi ini kemudian memicu rangkaian elektronik mengirim sinyal ke pusat pengendali kebakaran.
          Instalasi pemadam kebakaran otomatis secara garis besar dapat disajikan seperti Gambar. 3.   


fire suppression system
































.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar